Rabu, 29 Februari 2012

manusia diantara 2 tangisan

Manusia di antara 2 tangisan
Detik waktu bersama kelahiran seorang bayi dihiasi tangisan .Nyaring berkumandang menghiasi telinga si IBU. Merakah tersenyum hatinya gembira penawar sakit dan lesu serta berjuang dengan Maut. Lalu mulailah sebuah kehidupan yang baru didunia dengan sebuat resiko pahit dan kejamnya kehidupan ini, bercucurkan darah dan tetes air mata.
Air mata adakalanya penyubur hati, penawar duka. Adakalanya buih Kekecewaan yang menhimpit perasaan dan kehidupan ini. Air mata seorang manusia hanyalah umpama air kotor diperlimpahan. Namun setetes air mata kerana takut kepada ALLAH persis permata indahnya gemerlapan terpancar dari segala arah dan penjuru. Penghuni Syurga ialah mereka yang banyak mencucurkan air mata Demi ALLAH dan Rasulnya bukan semata karena harta dan kedudukan.
Pencinta dunia menangis kerana dunia yang hilang. Perindu akhirat menangis kerana dunia yang datang. Alangkah sempitnya kuburku, keluh seorang batil, Alangkah sedikitnya hartaku, kesal si hartawan (pemuja dunia).
Dari mata yang mengitai setiap kemewahan yang mulus penuh rakus, mengalirlah air kecewa kegagalan. Dari mata yang redup merenung Hari Akhirat yang dirasakan dekat, mengalirkan air mata insaf mengharap kemenangan, serta rindu akan RasulNya.
"Penghuni Syurga itulah orang-orang yang menang." (al- Hasr: 20)
Tangis adalah basahan hidup,justeru:Hidup dimulakan dengan tangis, Dicela oleh tangis dan diakhiri dengan tangis.Manusia sentiasa dalam dua tangisan. Sabda Rasulullah s.a.w. "Ada dua titisan yang ALLAH cintai, pertama titisan darah para Syuhada dan titisan air mata yang jatuh kerana takutkan ALLAH."
Nabi Muhammad bersabda lagi :
"Tangisan seorang pendosa lebih ALLAH cintai daripada tasbih para wali."
Oleh karena itu berhati-hatilah dalam tangisan, kerana ada tangisan yang akan mengakibatkan diri menangis lebih lama dan ada tangisan yang membawa bahagia untuk selama-lamanya. Seorang pendosa yang menangis kerana dosa adalah lebih baik daripada Abid yang berangan-angan tentang Syurga mana kelak ia akan bertakhta.
Nabi bersabda :
"Kejahatan yang diiringi oleh rasa sedih, lebih ALLAH sukai dari satu kebaikan yang menimbulkan rasa takbur."
Ketawa yang berlebihan tanda lalai dan kejahilan. Ketawa seorang ulamak dunia hilang ilmu, hilang wibawanya. Ketawa seorang jahil, semakin keras hati dan perasaannya.
Nabi Muhammad bersabda :
"Jika kamu tahu apa yang aku tahu nescaya kamu banyak menangis dan sedikit ketawa."
Seorang Hukama pernah bersyair : "Aku heran dan terperanjat,melihat orang ketawa kerana perkara-perkara yang akan menyusahkan,lebih banyak daripada perkara yang menyenangkan."
Salafussoleh menangis walaupun banyak beramal,takut-takut tidak Diterima ibadatnya, kita ketawa walaupun sedar diri kosong daripada amalan.
Lupakah kita Nabi pernah bersabda :
"Siapa yang berbuat dosa dalam ketawa, akan dicampakkan ke neraka dalam keadaan menangis."
Kita gembira jika apa yang kita idamkan tercapai. Kita menangis kalau Yang kita cita-citakan terabai. Nikmat disambut ria, kedukaan menjemput duka.
Namun,Allah s.a.w. telah berfirman :
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu,padahal ia amat baik bagimu,dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu,pada hal ianya amat buruk bagimu. ALLAH mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui." (AL BAQARAH : 216)
Bukankah Nabi pernah bersabda: "Neraka dipagari nikmat, syurga dipagari bala."
Menangislah wahai diri, agar senyumanmu banyak di kemudian hari. Kerana engkau belum tahu, nasibmu dihizab kanan atau hizab kiri.Di sana, lembaran sejarahmu dibuka satu persatu, menyemarakkan rasa malu berabad-abad lamanya bergantung kepada syafaat Rasulullah yang dikasihi Tuhan. Kenangilah, sungai-sungai yang mengalir itu banjiran air mata Nabi Adam yang menangis bertaubat, maka suburlah dan sejahteralah bumi kerana terangkatnya taubat.
Menangislah seperti Saidina Umar yang selalu memukul dirinya dengan berkata:
"Kalau semua masuk ke dalam syurga kecuali seorang, aku takut akulah orangitu."
Menangislah sebagaimana Ummu Sulaim apabila ditanya : "Kenapa engkau menangis?" "Aku tidak mempunyai anak lagi untuk saya kirimkan ke medan Perang," jawabnya.
Menangislah sebagaimana Ghazwan yang tidak sengaja terpandang wanita rupawan. Diharamkan matanya dari memandang ke langit seumur hidup,lalu berkata : "Sesungguhnya engkau mencari kesusahan dengan pandangan itu."
Ibnu Masud r.a.berkata : "Seorang yang mengerti al Quran dikenali waktu malam ketika orang lain tidur,dan waktu siangnya ketika orang lain tidak berpuasa, sedihnya ketika orang lain sedang gembira dan tangisnya di waktu orang lain tertawa. Diamnya di waktu orang lain berbicara, khusuknya di waktu orang lain berbangga, seharusnya orang yang mengerti al Quran itu tenang,lunak dan tidak boleh menjadi seorang yang keras, kejam, lalai, bersuara keras dan marah.
Tanyailah orang-orang soleh mengapa dia tidak berhibur : "Bagaimana hendak bergembira sedangkan mati itu di belakang kami,kubur di hadapan kami,kiamat itu janjian kami, neraka itu memburu kami dan perhentian kami ialah ALLAH."
Menangislah di sini, sebelum menangis di sana!!!.............
Wallahu a'lam...
Posted by Dhanie
Note by Rizal Jalal
Diambil dari tawakkal.co.id

semut dalam telinga

SEMUT DI DALAM TELINGA
Ada seorang pekerja yang sedang bertugas di sebuah perusahaan. suatu
ketika, tanpa disengaja dia menginjak sarang semut hingga lantai
dipenuhi kawanan semut, semut-semut yang tak terkira jumlahnya sampai
merayap ke seluruh tubuhnya.
sebentar kemudian, dia merasakan telinganya amat gatal. disangkanya
semut-semut sudah merayap masuk ke telinganya, hingga dia memutuskan
untuk berobat ke dokter. hasil pemeriksaan dokter menunjukkan bahwa
telinganya tidak dimasuki semut, tapi anehnya dia tetap bersikeras
mengatakan telinganya terdapat semut. banyak dokter telah dicari,
tapi hasilnya tetap sama.
seorang temannya menganggap dia terlalu dilanda prasangka dan
perasaan yang berlebihan, hingga menjadi penyakit psikis. kalau betul
demikian, tak ada gunanya mencari dolter, melainkan yang dibutuhkan
adalah seorang psikiater.
psikiater memeriksanya dengan teliti dan mengatakan positif, "Ada,
memang ada. tapi sebelum semutnya dikeluarkan, harus terlebih dahulu
disuntik." lalu diapun merebahkan diri untuk disuntik dengan obat
bius. dia tertidur pulas, saat mulai siuman, psikiater membunyikan
beberapa batang perkakas medis di samping telinganya hngga berdesing,
lalu menunjukkan dua ekor semut yang ditangkapnya dari sisi meja
seraya berkata:" kini anda telah sembuh, semut itu telah saya
keluarkan." mendengar ini, si pasien amat bergembira dan mengucapkan
terima kasih kepada psikiater.
PENJELASAN:
Telah dapat dibuktikan, bahwa dari kecurigaan akan melahirkan sosok
mara. kalau sudah dilanda prasangka bagaimana mungkin bisa melahirkan
kepercayaan diri? terlebih lebih kalau sudah mencurigai kebenaran
hukum Tuhan, bagaimana mungkin dapat membina diri lagi?
From : Kisah Dharma (motivati_net)

tangis untuk adikku


Tangis untuk adikku
Ceritanya menyentuh banget :) dari milist tetangga
-------------------------------------------------------------------------------------------------
Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari,
orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke
langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku. Yang
mencintaiku lebih daripada aku mencintainya.
Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di
sekelilingku kelihatannya membawanya, Aku mencuri lima puluh sen dari laci
ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di
depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya.
"Siapa yang mencuri uang itu?" Beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk
berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan,
"Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!"
Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi. Tiba-tiba, adikku mencengkeram
tangannya dan berkata, "Ayah, aku yang melakukannya!"
Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu
marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan napas.
Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi, "Kamu
sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu
lakukan di masa mendatang? Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak
tahu malu!"
Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan
luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu,
saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan
tangan kecilnya dan berkata, "Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah
terjadi."
Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk
maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan
seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia
melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11.
Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA
di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima untuk masuk ke sebuah
universitas provinsi. Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok
tembakaunya, bungkus demi bungkus. Saya mendengarnya memberengut, "Kedua anak
kita memberikan hasil yang begitu baik,hasil yang begitu baik" Ibu mengusap air
matanya yang mengalir dan menghela nafas, "Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita
bisa membiayai keduanya sekaligus?"
Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata, "Ayah, saya
tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah
cukup membaca banyak buku."
Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya. "Mengapa kau
mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya?
Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan saya akan menyekolahkan kamu
berdua sampai selesai!"
Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam uang.
Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak,
dan berkata, "Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya. Kalau tidak ia
tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini." Aku, sebaliknya, telah
memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas.
Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah
dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia
menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas
bantalku: "Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari
kerja dan mengirimu uang."
Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air
mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku
20.
Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan
dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai
ke tahun ketiga. Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman
sekamarku masuk dan memberitahukan, "Ada seorang penduduk dusun menunggumu di
luar sana!"
Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan melihat
adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku
menanyakannya, "Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah
adikku?"
Dia menjawab, tersenyum, "Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka
pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan
menertawakanmu?"
Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari
adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku, "Aku tidak perduli
omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga! Kamu adalah adikku bagaimana
pun penampilanmu..."
Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia
memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, "Saya melihat semua gadis kota
memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu."
Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam
pelukanku dan menangis dan menangis. Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23.
Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah
diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari
seperti gadis kecil di depan ibuku. "Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu
banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!" Tetapi katanya, sambil tersenyum,
"Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu
melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu."
Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus
jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan membalut
lukanya. "Apakah itu sakit?" Aku menanyakannya.
"Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi,
batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku
bekerja dan." Ditengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku
memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku. Tahun itu, adikku
23. Aku berusia 26.
Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali suamiku dan aku mengundang
orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah
mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus
mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, mengatakan, "Kak, jagalah mertuamu
saja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini."
Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan
pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak
tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi.
Suatu hari, adikku di atas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ketika
ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit. Suamiku dan aku pergi
menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu, "Mengapa kamu
menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang
berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa
kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?"
Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya. "Pikirkan
kakak ipar --ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan.
Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan dikirimkan?"
Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang
sepatah-sepatah: "Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!"
"Mengapa membicarakan masa lalu?" Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia
berusia 26 dan aku 29.
Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun
itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya,
"Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?" Tanpa bahkan berpikir ia menjawab,
"Kakakku."
Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat
kuingat. "Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda.
Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan
pulang ke rumah. Suatu hari, Saya kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku
memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan
sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca
yang
begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu, saya
bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik
kepadanya."
Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya
kepadaku.
Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku, "Dalam hidupku, orang yang
paling aku berterima kasih adalah adikku." Dan dalam kesempatan yang paling
berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari
wajahku seperti sungai. (Dari "I cried for my brother six times -
swaramer)

kisah sebuah wortel

Kisah sebuah Wortel, sebutir Telur dan
secangkir Kopi


Seorang gadis mengadu pada ibunya, berkeluh kesah tentang kehidupannya
yang dirasa amat berat. Gadis itu tidak tahu bagaimana dia akan melalui
semua itu dan merasa ingin menyerah saja. Dia merasa lelah berjuang dan
menderita dalam kehidupan ini. Jika satu masalah teratasi, akan timbul
masalah baru.

Ibunya mengajak putrinya menuju dapur. Diisinya 3 buah panci dengan air
dan direbusnya air itu dengan api yang besar. Begitu semua air mendidih,
dia masukkan wortel pada panci pertama, telur pada panci ke dua, dan
butiran kopi di panci terakhir. Mereka menunggu sampai ketiga air di
panci kembali mendidih.

Dalam 20 menit kompor-kompor dimatikan oleh sang ibu.
Wortel dikeluarkan dan diletakkannya di sebuah piring.
Begitu juga dengan telur dan  kopi diletakkan dalam piring dan gelas
berbeda. Sang ibu memandang putrinya sambil berkata :" Katakan apa yang
kamu lihat."
Putrinya menjawab : " Wortel, telur dan kopi."

Ibunya meminta putrinya agar mendekat dan merasakan wortel itu. " Wortel
itu menjadi lembek." Ibunya kemudian meminta putrinya untuk memecahkan
telur yang telah matang itu. Setelah mengupas kulitnya, dia sadar

bahwa isi telur itu telah mengeras karena direbus.
Akhirnya sang ibu meminta putrinya untuk meminum kopi yang telah matang.
Putrinya tersenyum merasakan keharuman kopinya. "Apa arti semua ini, ibu
?" tanya putrinya. Ibunya menjelaskan bahwa setiap benda-benda itu telah
melewati "Kemalangan" yang sama, yaitu direbus di dalam air mendidih.
Namun tiap benda punya reaksi berbeda.

Wortel itu sebelumnya kuat, keras dan "tidak berperasaan." Namun setelah
direbus dia menjadi lunak dan lemah. Telur itu sebelumnya rentan, mudah
pecah.
Punya dinding tipis untuk melindungi cairan di dalamnya. Namun setelah
direbus, cairan di dalamnya menjadi keras. Sedang butiran kopi adalah
fenomena unik, ia menjadi air setelah direbus.

" Termasuk yang mana kamu, anakku ?" kata ibu pada putrinya. " Jika
kemalangan mengetuk pintumu, bagaimana kamu meresponnya ? Apakah kamu
seperti wortel, sebutir telur atau biji kopi ?"

Camkan Hal ini :

Termasuk yang mana aku ini ? Apakah seperti wortel yang terlihat keras
namun ketika dihadang masalah dan kemalangan  aku menjadi lemah dan
kehilangan kekuatanku ?

Apakah hatiku rentan seperti isi telur, namun ketika "di didihkan" oleh
kematian, perpisahan, masalah keuangan atau ujian-ujian lainnya
menjadikan hatiku kuat ? Apakah dinding luarku masih terlihat sama namun
kini didalam aku menjadi seorang yang gigih dan berjiwa keras ?

Atau aku mirip dengan biji kopi ? Biji kopi sebenarnya mengubah air
panas disekitarnya, yaitu keadaan yang membawanya dalam kepedihan.
Ketika air mulai mendidih, maka dia mengeluarkan aroma dan rasa kopi
yang nikmat.


Bila keadaan menjadi kian memburuk, mampukah kalian mengubah situasi di
sekitar menjadi suatu kebaikan ?
Ketika hari kian gelap dan ujian semakin meningkat, apakah kalian
mengangkat diri sendiri ke tingkatan yang lain? Bagaimana kalian
menangani masalah-masalah hidup yang datang silih berganti ? Apakah
kalian mirip

sebuah wortel, sebutir telur atau biji kopi ?

Semoga kalian mempunyai cukup bekal kebahagiaan untuk membuat hidup
terasa indah. Cukup ujian agar membuat kalian kuat, cukup kesusahan agar
kalian lebih manusiawi, dan cukup harapan untuk membuat kalian mampu
bertahan hidup.

Ketika dilahirkan, bayi menangis disaat semua orang tersenyum menyambut
kehadirannya. Menangkan hidup ini agar diakhir perjalanan nanti kita
bisa tersenyum ketika semua orang disekitar menangis.

Dunia ini memang panggung sandiwara, kita dan semua yang kita lihat
hanyalah ilusi yang penuh dengan kiasan-kiasan. Kita bukan siapa-siapa,
kita bukanlah seperti yang kita sangka. Kita hanyalah bayangan-bayangan,
pujilah Dia Yang mampu membuat bayangan-bayangan bisa mendengar,
melihat, merasa, berbicara, dan berbuat apa saja. Bukalah hati, mata dan
pikiranmu semasa di dunia, karena siapa yang buta hatinya di dunia, di
akhirat nanti akan semakin dibuat buta oleh Tuhan-nya...Subhanallah ~

**********************************************************************
This e-mail and any files transmitted with it may contain
confidential information and is intended solely for use by
the individual to whom it is addressed.  If you received
this e-mail in error, please notify the sender, do not
disclose its contents to others and delete it from your
system.

**********************************************************************
"..Bertahan hidup harus bisa bersikap lembut..walau hati panas, bahkan terbakar
sekali pun..Keluh kesah ini mungkin berguna..jadikan teman sejati di medan
juang.. Bisa jadi kita bosan..tapi kenyataan..badai datang tak bosan-bosan.."
--Di Ujung Abad::IF

kisah tukang cukur

KISAH TUKANG CUKUR



Seorang konsumen datang ke tempat tukang cukur untuk memotong rambut dan merapikan
brewoknya. Si tukang cukur mulai memotong rambut konsumennya dan mulailah terlibat
pembicaraan yang mulai menghangat. Mereka membicarakan banyak hal dan berbagai variasi
topik pembicaraan, dan sesaat topik pembicaraan beralih tentang Tuhan. Si tukang cukur
bilang, "Saya tidak percaya Tuhan itu ada". "Kenapa kamu berkata begitu ???" timpal si
konsumen. "Begini, coba Anda perhatikan di depan sana, di jalanan.... untuk menyadari
bahwa Tuhan itu tidak ada. Katakan kepadaku, jika Tuhan itu ada, Adakah yang sakit??,
Adakah anak terlantar?? Jika Tuhan ada, tidak akan ada sakit ataupun kesusahan. Saya
tidak dapat membayangkan Tuhan Yang Maha Penyayang akan membiarkan ini semua terjadi". Si
konsumen diam untuk berpikir sejenak, tapi tidak merespon karena dia tidak ingin memulai
adu pendapat. Si tukang cukur menyelesaikan pekerjaannya dan si konsumen pergi
meninggalkan tempat si tukang cukur. Beberapa saat setelah dia meninggalkan ruangan itu
dia melihat ada orang di jalan dengan rambut yang panjang, berombak kasar, dan brewok
yang tidak dicukur. Orang itu terlihat kotor dan tidak terawat. Si konsumen balik ke
tempat tukang cukur dan berkata, "Kamu tahu, sebenarnya TIDAK ADA TUKANG CUKUR". Si
tukang cukur tidak terima, "Kamu kok bisa bilang begitu ??". "Saya disini dan saya tukang
cukur. Dan barusan saya mencukurmu!". "Tidak!" elak si konsumen. "Tukang cukur itu tidak
ada, sebab jika ada, tidak akan ada orang dengan rambut panjang yang kotor dan brewokan
seperti orang yang di luar sana", si konsumen menambahkan. "Ah tidak, tapi tukang cukur
tetap ada!", sanggah si tukang cukur. "Apa yang kamu lihat itu adalah salah mereka
sendiri, kenapa mereka tidak datang ke saya", jawab si tukang cukur membela diri.
"Cocok!" kata si konsumen menyetujui. "Itulah point utamanya!. Sama dengan Tuhan, TUHAN
ITU JUGA ADA!, Tapi apa yang terjadi... orang-orang TIDAK MAU DATANG kepada-NYA, dan
TIDAK MAU MENCARI-NYA. Oleh karena itu banyak yang sakit dan tertimpa kesusahan di dunia
ini..". Si tukang cukur pun terbengong...










Sahabat,..
Renungkanlah sejenak,..
Apakah benar aliran kehidupan akan terhenti hanya pada saat ini,...
Tidakkah mungkin bagi kita untuk berpaling ke jalur kehidupan lain,..
Kehidupan yang mungkin jauh berbeda dari yang kita bayangkan,..

Sahabat,..
Pikirkanlah walau sesaat,..
Apakah semua tindakan kita adalah hanya akan berlalu saja,..
Tidakkah setiap ucapan kita akan berbalik pada kita kelak,..
Berbalik bagai bumerang yang siap menerjang walau kita tidak siap,..

Sahabat,..
Berhentilah walau sekejap,..
Apakah semua yang telah terjadi benar benar telah berakhir,..
Tidakkah segalanya merupakan satu rangkaian kehidupan yang mesti dilalui,..
Rangkaian yang kerap memberi warna warni dalam hidup kita,..

Sahabat,..
Acapkali kita berpikir bahwa inilah hidup yang kita jalani,..
Inilah warna yang telah kita pilih dalam kehidupan kita,..
Warna yang akan terus kita kenakan sebagai identitas diri kita,..

Sahabat,..
Cobalah untuk membuka pikiran kita,..
Benarkah yang sekarang kita lakukan,..
Benarkah yang telah kita lakukan,..

Sahabat,..
Kita adalah manusia yang bergelimang kesalahan dan penyesalan,..
Namun apakah tiada penyesalan tanpa kesalahan yang telah lalu,..
Apakah kita semua harus larut dalam penyesalan,..

Sahabat,..
Sesungguhnya masih banyak jalan yang dapat kita pilih,..
Jalan yang terbentang di hadapan kita,..
Jalan yang menanti saat kita melaluinya dengan penuh harapan,..

Sahabat,..
Tiada kata terlambat untuk berubah,..
Tiada ungkapan sesal tanpa kesempatan mengubahnya,..
Yang ada hanya kelalaian dalam hidup,..

kisah dosen embriologi

Ada yang mengartikan kesetiaan sebagai sebuah ikhtiar untuk menjaga hubungan
yang telah dibina.
misalnya, antara sahabat dengan sahabat, bawahan dengan atasan, rakyat dengan
tanah airnya,
dan lain-lain. Lebih kepada wujud cinta yang diaplikasikan untuk memberikan yang
terbaik
agar “sesuatu” yang sedang dimiliki tidak hilang. Lain lagi bagi suami istri.
Mungkin kesetiaan
bisa diartikan sebagai utuhnya kasih sayang yang diterima dari pasangannya, yang
diiring ketulusan
untuk selalu mendampingi dalam kondisi apapun

Hari itu, pelajaran Embriologi yang membosankan ditiadakan. Karena ibu dosen
yang bersangkutan
tidak datang. Aku dan teman-teman bisa bernafas lega, karena otak bisa
diistirahatkan dari
gambar-gambar perubahan bentuk yang susah sekali untuk di mengerti. Namun, ada
sesuatu yang
terasa lain .. “menurutku, tidak biasanya Ibu absen”, . Dalam keadaan sakit
sekalipun, ibu memaksakan
diri datang.

Jujur saja, dunia kuliah kadang menjemukan. Dalam canda, sering aku dan
teman-teman melontarkan
pertanyaan “Kapan ya giliran si ibu sakit ?”. Sulit juga mencari standar sakit
buat Ibu, karena
sudah sekitar lima tahun beliau berperang melawan kanker. Padahal menurut
prediksi dokter luar negeri
yang menangani pengobatannya, seharusnya diperkirakan dua tahun yang lalu
usianya habis. Ternyata
Alhamdulilah, sampai kini Ibu masih segar bugar.

Dalam kegembiraan, mau tidak mau ada juga rasa gelisah yang hadir dalam
pikiranku “Ada apa dengan ibu
yah ? ”. Masih teringat senyum dan semangat Ibu saat memberi kuliah seminggu
yang lalu. Walau sebelah
matanya sudah diperban. Namun, sedikitpun tidak terbersit wajah putus asa.
Seperti lazimnya terlihat
pada pasien penderita kanker lainnya.

Saat sedang merenung, tiba-tiba muncul Bang Rudi (asisten ibu) sambil berkata,
“Ibu masuk Rumah
Sakit.”, ujarnya.

Kontan, diam-diam muncul pertanyaan di hati... “ Buah dari doa kita kah ?”.
Mata-mata yang tadinya
jail berubah jadi sendu. Inikah saatnya perjuangan Ibu berakhir ?, pikirku
kembali. Perlahan… .,
aku dan teman-teman melangkah ke kantor Jurusan dengan alam pikiran
masing-masing. Tepat di depan
Dekanat, Suami ibu yang juga dosenku melintas dan menyapa dengan keramahannya
yang khas “Habis kuliah
ya? Kuliah apa ?”, sapa beliau.

Lalu, Bagai berondongan senapan mesin, kami semua ingin bersuara untuk menjawab
sambil
mengajukan pertanyaan, “jadwal kuliah sama Ibu Pak, tapi kami dapat kabar Ibu
dirawat.”
“Ibu nggak apa-apa kan Pak ?”, “Ibu kenapa Pak? ”, tanya kami.

Sambil tersenyum, Bapak tersebut menjawab “Ibu anfal semalam, menurut dokter ..
kanker ibu sudah
menjalar ke kepala sehingga harus dioperasi, mohon doa dari kalian semua” , ujar
beliau penuh harap.
“Wah, gue salut banget sama Bapak. Beliau gagah… padahal ibu nggak gitu cantik,
ga punya anak lagi
tapi setianya itu… gue benar-benar salut deh !” tiba-tiba Anti nyerocos tanpa
diminta.
“Gue mau deh jadi isteri keduanya Bapak” tambah Anti lagi, kontan semua rekanku
menjadi tertawa 
****

Hari itu, sudah dua pekan Ibu dirawat di Rumah Sakit, namun selalu saja
cari-cari alasan untuk
tidak menjenguk beliau. Kuliah Exacta-lah, Jadwal kuliah dan praktikum yang
sangat padat lah,
belum lagi setumpuk tugas dan laporan yang harus diselesaikan. Kalaupun ada
waktu, siang hari
di saat mentari sedang bersinar garang. Melelahkan…

Dari kejauhan, di ujung koridor.. wajah Bapak terlihat sendu, tidak seperti
biasanya.
“Apa yang terjadi dengan ibu yah ?, tanyaku. “Jangan-jangan…” , diriku mulai
berpikir cemas.
Kali ini, setengah berlari aku dan teman-teman menyongsong Bapak, tidak sabar
ingin dapat jawaban.
“Pak, maafin ya.. kami belum sempat menjenguk ibu.” Dengan penyesalan yang dalam
Dida membuka
percakapan.

“Bapak ngerti… “ , sambil tersenyum, walaupun dalam sorot matanya tidak bisa
menyembunyikan kesenduan.
“Ibu kalian mulai tidak sadarkan diri, dan juga Bapak telah melakukan
kesalahan”, kata beliau memulai
ceritanya pada kami. “Dua hari yang lalu, ujar beliau, seperti biasa Bapak papah
Ibu ke kamar kecil…
tapi Bapak ceroboh sehingga Ibu tergelincir… bapak spontan menarik tangan Ibu
agar jangan jatuh.
Ibu memang tidak jadi jatuh, tapi tangan kiri Ibu patah. , sesalnya.

Namun, dalam sakitnya Ibu masih bisa tersenyum dan menghibur… bahwa itu bukan
salah Bapak”,
kata beliau sambil merenung.

Belum selesai Bapak bercerita…., bulir-bulir air mata beliau perlahan turun
menuruni pipinya.
Suasana itu pun membawa kami jadi ikut bersedih, sehingga menangis bersama. Aku
pun bertanya
dalam hati, kenapa dalam duka kebersamaan itu baru terasa ?, Ya Rabb, beri kami
kesempatan untuk
tetap menikmati semangat Ibu, harapku.

Entahlah, mungkin doa yang sama terucap dari batin masing-masing ketika itu.
Sore itu, kami akhirnya menjenguk Ibu ke Rumah Sakit. Dan memang Ibu mulai tidak
sadarkan diri.
Dia mengigau. Sebentar-sebentar memanggil Bapak. Lalu dengan setia, Bapak
mengusap tangan Ibu
yang mulai bengkak karena telah lama dipasok infus dan terus berbaring. Dengan
tatapan cinta dan
senyuman Bapak membesarkan hati Ibu dan meyakinkannya bahwa ibu Insya Alloh bisa
sembuh.

Pemandangan itu meluluh lantakkan segala kearoganan. Sampai akhirnya ada seorang
teman Bapak
bersuara “Sebenarnya istrimu sudah lama ingin menghadap Rabbnya, tapi kasih
sayangmu masih
membelenggunya, sehingga dia belum bisa pergi tenang. Lepaskanlah dia..
biarkanlah dia kembali…
Allah mencintainya lebih dari cinta yang kau punya. Yakinlah saudaraku !
Allah pun takkan mengambilnya tanpa restumu, orang yang telah menjaga cinta yang
dititipkan-Nya”,
jelas bapak tersebut memberi nasehat.

Genangan air mata yang tadi tertahan, sekarang meluncur deras … mengiringi
perjuangan seorang hamba
mempertaruhkan cintanya. Semua terpaku diam.. hening..
“Ya Rabb, bantu Bapak untuk mengikhlaskan Ibu pergi… Jangan hukum Bapak karena
rasa cintanya” ,
kataku dalam hati ini berharap.

Lalu, dengan suara tersendat, Bapak berujar “Pergilah kekasih hatiku… sudah
banyak kebahagiaan yang
kau beri untukku, dengan sabarmu telah kau buat aku SETIA, dengan ketegasanmu
telah kau antar aku
menjadi seorang yang berarti… Dia lebih mencintaimu sayang… kembalilah kepadanya
dengan tenang.
Semoga kedamaian rumah tangga yang selama ini kita bina akan mempertemukan kita
kembali di surga-Nya.
Aku mencintaimu isteriku… Asyhaadu allaa ilaaha illallaah wa asyhaadu anna
muhammaadurrasuulullaah….”
Bapak terkulai di dahi Ibu… seakan tak rela berpisah. Ibu pun tersenyum
perlahan.
Dan ternyata itulah senyumannya yang terakhir… “Innalillaahi wa ina ilaihi
raaji’un…”
Ibu kembali ke pangkuan Yang Kuasa. Akankah Embriologi tetap menjemukan ? Tidak
!!
Kami harus semangat… tidak boleh gagal ! Setidaknya, Ibu tetap bisa tersenyum
dari alam sana.
karena perjuangannya tidak sia-sia.

“Ringankan siksa Ibu di kuburnya ya Rabb. Izinkan Ibu tetap tersenyum dalam
menjalani penantian
menunggu hisabnya. Beri kami semangat dan ketabahan seperti yang Ibu punya ya
Allah. Sampaikan kalau
kami sangat kehilangan… Ampuni kesalahan kami pada Ibu… Kami menyayanginya ya
Rahman”

Saudaraku yang baik. mungkin kesetiaan menjadi lain artinya dalam versi sahabat
semua.
Mudah-mudahan cerita ini menjadi bahan renungan, bahwa setia itu tidak diukur
oleh faktor yang tampak,
tapi lebih didominasi oleh komitmen dan cinta yang terarah. Mudah-mudahan SETIA
yang terbentuk
hanya berasal dari cinta kepada Allah.
Wallaahu’alam (patra/ Villa sekpim/12/4/2003) © 2003
www.manajemenqolbu.com ***

Mohon maaf kepada Bapak karena kisah hidup Bapak saya modifikasi.
Mudah-mudahan pelajaran ini bisa jadi bekal bagi kami dalam membina keluarga.
Amin.
Teruntuk “viet camp”. Jangan lupa panjatkan doa untuk Ibu ya… Wassalamu'alaikum
wr wb

kisah einstein

Juha dalam sastra Arab identik dengan kisah-kisah
lucu sarat makna. Dia selalu saja berseberangan
pendapat dengan anaknya dalam sebagian prilaku,
setiap dia memerintahkan anaknya untuk melakukan
sesuatu, sang anak selalu menyanggahnya dengan
beralasan, Apa kata orang nanti kepada kita,
kalau kita melakukannya.?

Suatu kali, dia ingin memberikan pelajaran kepada
sang anak sehingga bermanfaat baginya dan
membuatnya tidak selalu berusaha untuk mendapatkan
restu dan kerelaan semua orang, sebab kerelaan
manusia itu sesuatu yang tidak diketahui batasnya.
Maka, dia pun mengambil seekor keledai lalu
menungganginya dan menyuruh sang anak berjalan di
belakangnya. Baru berjalan beberapa langkah,
lewatlah sebagian wanita yang lalu menyoraki Juha,
Wah, ada apa dengan orang ini.! Tidakkah ada
kasih sayang di hatimu? Kok, kamu yang naik
sedangkan anakmu yang kecil itu kelelahan berjalan
di belakang.?

Maka, Juha pun turun dari keledainya dan menyuruh
sang anak yang naik. Tak berapa lama berjalan,
lewat pula segerombolan orang tua yang duduk-duduk
di bawah terik matahari, maka masing-masing ayah
dan anak ini saling menepukkan telapak tangan
sehingga mengundang perhatian orang-orang lainnya
ke arah orang dungu yang berjalan dan membiarkan
anaknya berada di atas keledai tersebut. Mereka
berkata,
Wahai orang tua, kamu berjalan kaki padahal sudah
tua sementara anakmu kau biarkan naik kendaraan.
Bagaimana kamu bisa mendidiknya agar memiliki rasa
malu dan beretika.?

Apakah kamu sudah mendengar apa omongan mereka
barusan? Kalau begitu, mari kita naik
bareng-bareng. Kata Juha kepada anaknya

Lalu mereka berdua menaikinya bersama-sama dan
berjalan, tetapi di tengah perjalanan, kebetulan
bertemulah mereka dengan sekelompok orang yang
dikenal sebagai kelompok pencinta binatang.
Melihat pemandangan itu, mereka meneriaki sang
ayah dan anak,
Takutlah kepada Allah, kasihanilah binatang yang
kurus-kering ini. Apakah kalian berdua
menungganginya bersama-sama padahal timbangan
masing-masing kalian lebih berat daripada keledai
ini.?

Kamu dengar tadi,? kata Juha kepada anaknya
sambil ia turun dan menurunkan anaknya

Kalau begitu, mari kita berjalan bersama-sama dan
kita biarkan keledai ini berjalan di hadapan kita
sehingga kita bisa terhindar dari ucapan miring
orang laki-laki, wanita dan para pencinta binatang
tersebut, kata Juha lagi

Mereka berdua kemudian terus berlalu sementara
keledai berjalan di depan mereka. Kebetulan mereka
berpapasan lagi dengan segerombolan pemuda-pemuda
berandalan. Melihat pemandangan tersebut, mereka
menggunakan kesempatan untuk mengejek seraya berkata,
Demi Allah, yang pantas adalah keledai ini yang
menaiki kalian berdua sehingga kalian dapat
membuatnya terhindar dari kendala-kendala di jalan.

Cerita terus berkembang dan menyebutkan bahwa Juha
rupanya mau mendengar ucapan pemuda-pemuda
berandalan tersebut. Dia dan anaknya lalu pergi ke
sebuah pohon di tepi jalan, kemudian memotong
cabangnya yang kuat dan menambatkan keledai ke
cabang tersebut, lantas Juha memikul satu sisi dan
anaknya satu sisi yang lain.

Baru beberapa langkah mereka berlalu, rupanya ada
beberapa orang di belakang mereka yang
menertawakan pemandangan yang aneh tersebut,
sehingga mereka berdua distop oleh polisi dan
digiring ke rumah sakit jiwa. Ketika Juha sampai
di rumah sakit tersebut, tibalah baginya saat yang
tepat untuk menjelaskan ringkasan eksperimen
mereka yang telah mencapai puncaknya itu. Dia
menoleh ke arah anaknya, lalu berkata,
Wahai anandaku, inilah akibatnya bagi orang yang
selalu mendengar omongan-omongan orang; ini dan
itu serta hanya ingin mendapatkan kerelaan semua
mereka.

Kejadian itu merupakan pelajaran yang amat
berharga bagi anak si Juha yang akan selalu
diingat-ingatnya dan didokumentasikan pula oleh
sejarah.


Al-Mubarrid menyebutkan dari Abu Kamil dari Ishaq
bin Ibrahim dari Raja' bin Amr An-Nakha'i, ia
berkata: "Adalah di Kufah, terdapat pemuda tampan,
dia kuat beribadah dan sangat rajin. Suatu saat
dia mampir berkunjung ke kampung dari Bani
An-Nakha'. Dia melihat seorang wanita cantik dari
mereka sehingga dia jatuh cinta dan kasmaran. Dan
ternyata, si wanita cantik ini pun begitu juga
padanya. Karena sudah jatuh cinta, akhirnya pemuda
itu mengutus seseorang melamarnya dari ayahnya.
Tetapi si ayah mengabarkan bahwa putrinya telah
dijodohkan dengan sepupunya. Walau demikian, cinta
keduanya tak bisa padam bahkan semakin berkobar.
Si wanita akhirnya mengirim pesan lewat seseorang
untuk si pemuda, bunyinya, 'Aku telah tahu betapa
besar cintamu kepadaku, dan betapa besar pula aku
diuji dengan kamu. Bila kamu setuju, aku akan
mengunjungimu atau aku akan mempermudah jalan
bagimu untuk datang menemuiku di rumahku'. Dijawab
oleh pemuda tadi melalui orang suruhannya, 'Aku
tidak setuju dengan dua alternatif itu:

''Sesungguhnya aku merasa takut bila aku berbuat
maksiat pada Rabbku akan adzab yang akan menimpaku
pada hari yang besar. (Yunus: 15).

Aku takut pada api yang tidak pernah mengecil
nyalanya dan tidak pernah padam kobarannya.'

Ketika disampaikan pesan tadi kepada si wanita,
dia berkata: "Walau demikian, rupanya dia masih
takut kepada Allah? Demi Allah, tak ada seseorang
yang lebih berhak untuk bertakwa kepada Allah dari
orang lain. Semua hamba sama-sama berhak untuk
itu." Kemudian dia meninggalkan urusan dunia dan
menyingkirkan perbuatan-perbuatan buruknya serta
mulai beribadah mendekatkan diri kepada Allah.
Akan tetapi, dia masih menyimpan perasaan cinta
dan rindu pada sang pemuda. Tubuhnya mulai kurus
dan kurus menahan perasaan rindunya, sampai
akhirnya dia meninggal dunia karenanya. Dan si
pemuda itu seringkali berziarah ke kuburannya, dia
menangis dan mendo'akannya. Suatu waktu dia
tertidur di atas kuburannya. Dia bermimpi berjumpa
dengan kekasihnya dengan penampilan yang sangat
baik. Dalam mimpi dia sempat bertanya: "Bagaimana
keadaanmu? Dan apa yang kau dapatkan setelah
meninggal?"

Dia menjawab: "Sebaik-baik cinta wahai orang yang
bertanya adalah cintamu. Sebuah cinta yang dapat
menggiring menuju kebaikan".

Pemuda itu bertanya: "Jika demikian, kemanakah kau
menuju?"

Dia jawab: "Aku sekarang menuju pada kenikmatan
dan kehidupan yang tak berakhir. Di Surga
kekekalan yang dapat kumiliki dan tidak akan
pernah rusak."

Pemuda itu berkata: "Aku harap kau selalu ingat
padaku di sana, sebab aku di sini juga tidak
melupakanmu." Dia jawab: "Demi Allah, aku juga
tidak melupakanmu. Dan aku meminta kepada Tuhanku
dan Tuhanmu (Allah Subha-nahu wa Ta'ala) agar kita
nanti bisa dikumpulkan. Maka, bantulah aku dalam
hal ini dengan kesungguhanmu dalam ibadah."

Si Pemuda bertanya: "Kapan aku bisa melihatmu?"
Jawab si wanita: "Tak lama lagi kau akan datang
melihat kami." Tujuh hari setelah mimpi itu
berlalu, si pemuda dipanggil oleh Allah menuju
kehadiratNya, meninggal dunia.